Thursday, January 21, 2016

Sejarah dan Asal Mula Tradisi Jumat Pahingan di Desa Menggoro


Tulisan ini dikutip dari tulisan Alm Bapak Thohuri Ms M.ag, seorang tokoh desa yang sangat disegani di desa Botoputih.

Juru kunci takmir masjid kuno tersebut bernama kyai Pahing, mengadakan kegiatan mujahadah atau do’a bersama, awalnya malam jum’at dengan pemimpin Kyai Adam Muhammad, yang dilakukan semalam suntuk dengan acara pengajian dilanjutkan do’a bersama atau mujahadah. 

Dari Jum’at ke Jum’at berikutnya jamaah semakin bertambah dan datang dari berbagai daerah, dan bahkan pengunjungnya tidak hanya ingin mujahadah saja tapi juga termasuk ingin tahu lebih dekat, ingin ngalap berkah Kyai dan sebagainya. 

Karena setiap kegiatan mujahadah banyak membutuhkan makan dan minuman karena banyak pula yang bermalam, maka Nyi Pahing (istri Kyai Pahing) memulai jualan di seberang masjid dengan menjajakan makanan dan minuman kebutuhan para pendatang. Kyai Pahing meninggal dan dimakamkan di Dusun Ngabean Menggoro begitu pula Nyai Pahing.


Sejarah dan asal mula tradisi jemuah paingan di desa menggoro
Sejarah dan asal mula tradisi jemuah paingan di desa menggoro

Sejarah dan Asal Mula Tradisi Jumat Pahingan di Desa Menggoro


Berita tentang kegiatan ini semakin meluas karena adanya semacam mitos bagi pengunjung yang mampu merangkul salah satu tiang atau tiang keramat dalam masjid itu maka segala keinginannya akan terkabul. Merangkul tiang ini dengan satu tangan baik kiri atau kanan sama saja. 

Di sini memang muncul keajaiban, yaitu tidak semua pengunjung mampu menghubungkan ujung jari mencapai bahunya ketika merangkul. Tapi yang terjadi cukup aneh, ada yang tampaknya tubuhnya tinggi tentu tangannya panjang tetapi tidak kesampaian dalam merangkul tiang tersebut, tetapi ada seorang pendek gendut nyatanya mampu merangkul dengan menempelkan ujung jarinya sampai ke bahu. Ini bisa di buktikan, karena penulis juga mencobanya tapi tidak kesampaian pula, tapi dengan itu ada pengunjung dari daerah Kaliangkrik Magelang dapat melakukanya.

Makam Kyai Adam Muhammad terletak di antara 2 pohon tanjung
Makam Kyai Adam Muhammad terletak di antara 2 pohon tanjung

Serambi Masjid
Serambi Masjid

Kyai Adam Muhammad meninggal yang kemudian di makamkan di depan Masjid, diantara pohon tanjung, yang sampai sekarang makam tersebut masih ada dan berada di depan masjid tepat gapura pintu masuk ke masjid. 

Karena para Kyai pengelola masjid sangat sibuk dakwah dan kegiatan lainya sepeninggal Kyai Adam Muhammad, maka upacara tradisi ini dilaksanakan selapan sekali (35 hari sekali) yaitu tiap malam Jum’at Pahing dan berlangsung sampai sekarang.

Perkembangan antara kegiatan ritual di dalam masjid dan kegiatan jualan di seberang masjid seimbang, para pedagang dari berbagai wilayah menjajakan daganganya di tempat itu, Cuma yang dominan adalah jajanan makanan khas menggoro “Brongkos Kikil Kambing” yang terdiri atas kaki (kikil),lidah kambing dan kepalanya, dengan masakan atau bumbu kusus agak pedas yang tidak ditemukan di daerah manapun selain Menggoro.

Saka yang "konon" bertua
Saka yang "konon" bertuah

Diantara 16 soko sudah ada beberapa yang di ganti karena rusak.
Yang menjadikan tradisi jumat pahingan ini terkenal adalah karena adanya mitos – mitos yang tersebar dari mulut ke mulut, dan biasanya yang mengabarkan adalah mereka yang telah berhasil menggapai cita-citanya lantaran berkunjung, mujahadah, ziarah dan lain sebagainya dalam mengikuti upacara ritual. Diantara mitos-mitos tersebut ialah :

Masjid menggoro sebagai salah satu masjid Wali menurut kepercayaan peziarah adalah masjid yang bertuah, diantara keajaiban yang di anggap bertuah antara lain:
  1. Tiang penyangga dalam masjid berjumlah 16 buah dan pada bagian atas tiang penyangga terdapat ukiran khas Sunan Kalijaga, Sehingga menurut kepercayaan mereka, bahwa barang siapa yang berhasil merangkul tiang (saka) tersebut dengan satu tangan, dengan cara merangkul dengan menempelkan ujung jarinya pada bahu sebelahnya. Kalau dapat menyentuh itu menandakan semua hasrat dan keinginan serta usaha-usahanya akan berhasil dan mendapatkan keselamatan.
  2. Dari 16 tiang masjid yang dianggap sangat bertuah ada di baris belakang (dekat pintu masuk) yang nomer dua dari kiri, dan atau yang terdapat ukiran di ujung tiangnya. Dengan seizin Allah kalau hasratnya akan terkabul tidak pandang orangnya tinggi besar yang dapat menyentuh bahu, namun bisa jadi yang pendekpun mampu merangkul dan menyentuhkan ujung jarinya ke bahu. Ini kenyataan, sebab pada malam jumat pahing, tanggal 4 februari 2005 yang lalu menyaksikan sendiri terhadap adanya pengunjung yang mampu melakukan tersebut.
Pengunjung yang melakukan mujahadah di dalam masjid dengan imam masing masing satu persatu merangkul salah satu tiang atau mencoba semua tiang dirangkul.


Pelunasan Midang / Nadzar


Para pengunjung yang datang di masjid menggoro ternyata banyak pula yang karena menunaikan Nadzar (orang wonosobo menyebutnya Midang) setelah usahanya berhasil atau cita-citanya dikabulkan oleh Allah swt. 

Nadzar yang dilakukan ada yang dilaksanakan pada malam hari banyak pula yang pada siang harinya, biasanya para orang tua yang mengucapkan nadzar atas anaknya yang sakit-sakitan kemudian dinadzari kalau sembuh akan diajak ke jumat pahingan, maka setelah anaknya sembuh mereka tunaikan nadzarnya tersebut dengan datang ke pasar depan masjid Menggoro pada tiap Jum’at pahing, dengan cara setelah sampai pasar atau arena jumat pahingan, salah sebagian anggota badannya diolesi dengan boreh ( bunga yang dilengkapi dengan enjet dan kunir diaduk dengan halus sehingga bunga dan perlengkapan tersebut dinamai Kembang Boreh). Dengan begitu maka dianggap telah melunasi nadzarnya.

Menurut sebagian pengunjung misalnya Ibu Saroh (70 tahun) dari bengkal Kranggan Temanggung menuturkan, kalau anaknya sakit dan dengan berbagai obat tidak sembuh-sembuh,maka dengan perantara obat sesuai dengan petunjuk mantra, dokter atau siapa saja sebagai lantaran disertai nadzar jumat pahingan akan cepat sembuh dan tidak kambuh lagi. 

Untuk itu jika anda berkunjung ke area Jumat pahingan pada hari antara jam 06.00-09.00 banyak orang tua yang menggendong anaknya datang dan menorehkan boreh pada anaknya dan tentunya tidak lupa dengan mainan anaknya seperti balon,mobil-mobilan,topeng dan sebagainya. Begitu pula orang dewasa yang bernazar kalau sakitnya sembuh akan ke Jumat pahingan di menggoro.

Bapak Mangku Miharja (73 tahun) seorang laki-laki jangkung yang sehat berasal dari desa Kalilunjar Selomerto Wonosobo, dia sering datang ke masjid Menggoro ini sejak tahun 1951. 

Beberapa tahun yang lalu dia bermunajat kemudian ujar (Nadzar/midang) kalau desanya mampu bangun masjid yang megah ( karena desanya termasuk kategori IDT) akan melakukan mujahadah di masjid ini selama satu tahun (tiap malam Jumat pahing). 

Rupanya cita-citanya kesampaian dan masjid sudah selesai menelan dana sekitar tiga ratus juta rupiah, dia sejak pasang pondasi sampai selesainya masjid ini melakukan puasa dan mujahadah di masjid ini atas petunjuk Mbah Muntaha Kalibeber dan Mbah Nawawi Ngadimulyo. 

Saat ini sambil mujahadah melaksanakan nadzarnya dia merencanakan mendirikan tempat pendidikan Raudhatu Athfal Masyithoh di desanya.

Penulis kesulitan referensi dalam bentuk media cetak karena memang “barangkali tidak ada” sehingga hanya dengan wawancara dengan takmir masjid, beberapa pengunjung serta kaum tertua di wilayah tersebut. (original text oleh Alm.Thohuri Ms M.ag)


Ditulis ulang oleh Nugroz Stone, Seorang praktisi IT sekaligus owner dari  IstanaKecilku dan juga founder pada "Dream Lands Design" website yang berfokus pada DIY and Home improvement tips dan juga "Cupcake Mommies" Parenting & Family Tips, Advice & Child Development Articles.


Emoticon Emoticon